Secangkir Cappuccino @ Lucaffe

 

Suatu siang, seorang teman mengajakku ke kedai kopi Luccafe, di mal Kota Kasablanka, Jakarta. Menurut  kakaknya, kopi di kedai itu menyenangkan rasanya.

Kedai itu sungguh mungil dan berada di area Food Society lantai 2, dekat dengan Little Tokyo. Interiornya didominasi warna merah, yang merupakan warna ikonik Luccafe. Di daftar menunya, ada kopi Single Origin, kopi jenis espresso, yaitu Espresso, Latte, Americano, dan Cappuccino, dan minuman Teh dan infusinya. Kalau tertarik, bisa kunjungi situsnya http://www.lucaffe.com .    Aku mencoba kopi cappuccino-nya. Secangkir kopi yang menjadi biasa karena sering pesan tetapi yang selalu bisa menjadi istimewa karena cerita-cerita seru di baliknya. Kali ini cerita tentang istri yang berbakti.

Saya bukan istri berbakti yang akan mencium tangan suami saya. Saya tidak bisa melakukan hal itu. Tetapi bukan berarti saya tidak berbakti. Bakti saya dalam bentuk lain, yaitu saya selalu berusaha memasak dan menyiapkan sendiri makan untuk suami dan anak-anak ketika mereka pulang. Dan saya selalu berusaha ada di tengah suami dan anak-anak saya saat mereka berada di rumah, akhir pekan, apalagi liburan. Tidak seperti cerita seorang kerabat suami. Kerabat ini kaya raya yang memiliki istri yang tidak bekerja. Di rumahnya ada beberapa asisten rumah tangga, yang siap menjalankan tugas membantu peran istri di rumah. Karena itu, si istri jadi mempunyai waktu yang longgar, sehingga bisa mudah pergi ke luar rumah. Mula-mula, perginya siang, pulangnya cepat. Lalu, pergi pagi-pagi, pulangnya sore. Kemudian, karena mungkin tidak ada yang protes, si istri perginya makin lama. Sekarang pulangnya sering malam, kadang melebihi jam pulang suaminya. Dan ini berlangsung hampir setiap hari. Mulailah sang suami keberatan. Kalau pulang malam karena bekerja, suami masih bisa terima, walaupun setengah hati. Tapi ini pulangnya malam karena habis dari pertemuan, jalan-jalan, dan shopping .. suami mana coba yang tidak keberatan?  Suami protesnya : “aku kangen dengan masakan istriku. Sejak kamu sering pergi, kamu tidak pernah lagi masak buat aku. Jadi mulai sekarang, kamu jangan pulang malam, kamu yang masak, bukan si bibi. Terserah, mau masak apa, yang penting kamu yang masak”.     Oke, si istri menurut. Dia tidak pulang malam lagi, dan… dia mulai masak untuk suaminya. Horeeee …

Hari pertama yang dimasak istri adalah telor ceplok. Suaminya agak terkejut dan geli, tapi … tidak apa-apa, yang penting, itu masakan istrinya. Hari kedua … telor ceplok lagi. Suami tetap makan tanpa mengeluh. Hari ketiga pun menunya sama, tetap telor ceplok. Begitu pula hari keempat dan hari kelima. Tapi di sini, suaminya mulai ‘eneg’ dengan telor ceplok. Walaupun ada masakan lain, tapi masakan itu tidak disentuh suaminya, karena itu masakan bibi. Suami tetap makan masakan istrinya, walaupun muak karena telor ceplok terus. Dan temanku, yang punya cerita itu, berkata, “…dan istrinya ini selalu cium tangan suaminya loh, ketika hendak pergi atau datang … berbakti sekaliiii …tidak seperti akuuuu …”

Cerita yang lain …

Seorang suami sakit gagal ginjal yang mengharuskannya cuci darah seminggu dua kali. Karena itu si istri sering di sampingnya, merawat suami yang mudah letih, yang asupan makannya harus dijaga, yang harus minum obat yang jumlahnya lebih dari 2 jenis. Istri yang sabar mengantar dan menunggui suaminya cuci darah, yang prosesnya bisa memakan waktu paling cepat 2 jam. Istri yang sabar memijat kaki suaminya setiap malam menjelang tidur, walaupun si istri kadang sudah lelah dan letih oleh aktivitas seharian. Aku berujar, “dikau istri yang berbakti sekali..” Eh, istri ini langsung menyambut ujaranku, “Oh iya mbak… tidak ada yang bisa seperti aku tingkat berbaktinya pada suami…aku yakin itu. Mbak pun menurutku, tidak akan bisa seperti aku dalam merawat suami. Karena aku yang bisa telaten, makanya aku yang dikasih cobaan suami sakit berat seperti sekarang ini oleh Tuhan…”   Aku melongo….   Lalu tertawa … tapi hanya dalam hati … Dia sesungguhnya tidak tahu apa-apa soal kemampuan orang lain, bagaimana dia bisa tahu kalau orang itu kurang bisa merawat orang dibanding dirinya? Dia tidak tahu persis kehidupanku karena kami hidup  berjauhan – di seberang pulau, bagaimana dia bisa tahu kalau aku tidak seberbakti dia dalam mengurus suami sakit?

 

Pemandangan interior sebuah resto di seberang Lucaffe

Ngomong-ngomong…cappuccino Lucaffe-nya enak loh…

 

  0 comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *