Museum Ullen Sentalu

 

Berkesempatan juga akhirnya mengunjungi museum Ullen Sentalu , Yogyakarta.

Terkesan… Itu yang bisa kukatakan. Hal lain yang bisa kukatakan adalah tentang foto. Ada foto yang seragam dibidik oleh semua pengunjung,  yaitu foto pintu masuk dan foto replika relief candi Borobudur yang dipasang miring… Itu karena kebijakan museum tentang larangan memotret di dalam museum.

Pintu masuknya sederhana. Kalau tidak melihat papan nama di atasnya, sempat kukira itu pintu samping, bukan pintu utama.

Pengunjung dikelompokkan di pintu masuk untuk kemudian kelompok itu masuk ke museum dengan bimbingan seorang pemandu.

Pemandunya bercerita dengan fasih namun cepat. Lumayan bisa membuat kita tertinggal … apalagi kalau kelompok kita terdiri dari lebih dari 5 orang dan agak telat mengikuti sang pemandu berpindah ruangan…

Di dalam publikasi museum, ruangan-ruangannya dikatakan bergaya Gothic atau Eropa kuno. Menurutku : entahlah. Tidak bisa sungguh-sungguh memperhatikan ruangannya pada kunjungan pertama kali. Kelihatannya  memang seperti kastil. Kuno dan temaram…tapi terawat.  Tentang kuno dan temaramnya, bagi saya pribadi, bikin merinding, walaupun berada di tengah kelompok pengunjung. Kebayang kalau menjelajah sendirian  … 

Detil ruangan-ruangan di dalam museum bisa dibaca antara lain di  Tourisme Sleman : Museum Ullen Sentalu     Tulisan berikut ini bukanlah deskripsi museum tapi cerita saya pribadi tentang beberapa ruangan dan isinya yang bisa diingat setelah kunjungan.

Ruang Seni dan Gamelan.

Tempat seperangkat gamelan yang pernah digunakan untuk pertunjukan wayang dan pagelaran tari di kraton Yogyakarta. Aku lebih tertarik pada sejumlah topeng tarian yang berwarna hitam, merah dan putih. Menyimak penjelasan sang pemandu, aku baru tahu bahwa warna-warna topeng itu mempunyai makna filosofis. Jadi bukan hanya sekedar sebuah warna.

Guwo Selo Giri.

Berisi foto dan lukisan tokoh dan kehidupan para Raja/Sultan dan keluarganya di jaman dinasti Mataram Islam, yaitu kraton Yogyakarta, Surakarta, Pakualam dan Mangkunegara. Karena ada narasi sang pemandu, foto dan lukisan itu jadi “berbicara”. Ada raja yang memiliki nama panggilan Bobby (menarik ya?). Ada Permaisuri yang sekaligus menjadi Ibu Suri. Kenapa demikian, silakan simak penjelasan pemandu saat berkunjung nanti… 😉   Lalu ada GRAj Koes Sapariyam yang dipanggil Tineke yang pandai menulis syair indah. Terus ada lukisan diri berbentuk 3D, yang artinya lukisan itu dari samping akan tampak sama dengan kalau dilihat dari depan. Ada seorang Sultan yang demi membebaskan Indonesia dari penjajahan, menyumbang 6 juta gulden (banyaknyaaa..) untuk proses pemerdekaan itu. Kemudian ada lukisan R.A Kuspariyah yang mahir bermain piano dan biola serta menguasai beberapa bahasa asing dengan fasihnya (wow!!). Kemudian ada seorang puteri cantik yang pintar menari dan berkuda. Nah, saat berkuda, apakah puteri cantik ini mengenakan kain atau pakaian berkuda? Jawabannya : mari jelajahi museum … Demikian kata sang pemandu 🙂

Kampung Kambang.

Tidak kambang sesungguhnya, tapi sebuah kolam kecil seperti parit yang dibuat mengelilingi bangunan. Ada beberapa ruangan di Kampung Kambang ini, yaitu Ruang Syair, Ruang Batik, dan Ruang Puteri Dambaan. Di Ruang Syair,  terdapat surat-surat dan syair indah puteri Tineke yang dipajang mengelilingi dinding ruangan. Semua surat itu ditulis dengan tangan. Tulisannya indah. Dan cobalah sempatkan diri membaca salah satu surat itu, sebelum buru-buru digiring keluar ruangan oleh sang pemandu. Isi suratnya…apik sekali. Kata-katanya sederhana tapi manis dan bijak. Bagiku, sesuai sekali rangkaian kata-kata itu dengan derajat puteri Tineke itu yang bangsawan tinggi. Tapi yang lebih mengagumkan buatku adalah surat-suratnya yang ditulis antara tahun 1939 – 1947 itu tersimpan dengan baik, sehingga kita sebagai generasi selanjutnya di tahun 2000-an ini bisa  melihat, membaca dan mengetahui bagaimana kehidupan di masa lampau itu. Bagaimana kegalauan seorang puteri Raja yang tidak direstui hubungan jatuh cintanya dengan pemuda yang tidak sama derajatnya… Surat dan syair indah itu adalah saksi hidup. Dan tentu saja kita bisa tahu akhir dari kegalauan hati itu … dengan datang ke museum itu … 😀

Di Ruang Batik Vorstendlanden Surakarta dan Vorstendlanden Jogjakarta, dipajang kain-kain batik Solo dan Jogja. Batik-batik itu indah dan menakjubkan karena sudah berumur puluhan tahun tapi tetap bagus warna dan kondisinya, namun … seperti ada yang kurang greget, tapi tidak tahu apa. Mungkin visualisasinya yang kurang pas, atau koleksinya yang kurang banyak.Entahlah…

Ruang Puteri Dambaan … menurutku kalau sudah membaca buku tentang Gusti Nurul, foto-foto yang ada di ruang itu tidak banyak bedanya dengan foto dalam buku.  Waktu kecil, aku pernah melihat foto Gusti Nurul semasa remaja di koran jadul (jaman dulu) yang aku lupa, entah koran Sinar Harapan atau Berita Buana. Di foto itu, Gusti Nurul berdiri bersama saudara-saudaranya dan terlihat sangat cantik, yang menurutku mengalahkan foto-foto yang ada di Ruang Puteri Dambaan itu. Aku mengira foto di koran itu akan ada di ruangan itu, tapi ternyata ….. tidak ada…

Koridor Retja Landa

Yang kusukai dari koridor ini adalah lansekap yang artistik yang menjadikan deretan patung-patung Dewa-Dewi Hindu dan Budha dari abad 8 Masehi nampak indah dan bermakna. Dan patung-patung itu pun punya cerita dan sejarahnya seperti sejarah benda-benda museum yang berada di ruangan.

Sasana Sekar Buwana

Rasanya, inilah ruangan museum yang paling kusuka. Karena ada lukisan-lukisan yang tergantung secara vertikal memenuhi dinding. Lukisannya luar biasa. Corak kain, baju dan perhiasannya dilukis dengan detil. Ada lukisan tentang pernikahan dan Paes Ageng, tentang Raja, tentang Pangeran Charles dan Putri Diana, dan juga ada lukisan tentang tari Bedaya Ketawang yang berbau mistis karena adanya Kanjeng Ratu Kidul sebagai penari ke-sepuluh (jumlah penari Bedaya Ketawang adalah 9) yang dilukis secara menerawang. Selain lukisan-lukisannya, ruang Sasana ini berhadapan dengan koridor Retja Landa dan taman. Jadi ruangan ini lebih terang dan terasa lebih hangat.

Tapi…apakah ruangan ini benar bernama Sasana Sekar Buwana? Ingatanku tidak bisa mengingatnya. Di beberapa blog dan situs, ruang Sasana adalah ruang terakhir dari tur Ullen Sentalu, di mana kita bisa istirahat minum ramuan awet muda racikan Ratu Mas, istri Kanjeng Sultan Hamengkubuwono VII sambil berfoto. Padahal, ingatanku mengatakan, di ruang Sasana ini justeru kita tidak bisa berfoto dan tidak ada istirahat minum jamu Ratu Mas. Nah … lupa deh … dan aku hanya bisa bilang, ‘inilah “Experiencing Museum” Ullen Sentalu…’    🙂

 

  0 comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *